RSS

Jika Gaji Anda Lebih Besar dari Suami

13 Apr

Karier dan penghasilan istri yang lebih besar seharusnya tidak menjadi sebuah masalah. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh pasangan suami-istri agar tidak menuai konflik saat hal itu terjadi.

1. Ubah pola pikir
Selama ini pola pikir dalam masyarakat cenderung menempatkan wanita dalam wilayah domestik yang bertanggung jawab terhadap urusan pengasuhan anak dan dapur. Sementara itu, lelaki berperan sebagai pencari nafkah dan tulang punggung keluarga.

Gambaran ini sebenarnya salah kaprah. Tanggung jawab dan kelangsungan rumah tangga tidak berada dalam satu tangan (suami), melainkan tanggung jawab bersama. Konflik biasanya muncul karena pola pikir yang salah. Bila masing-masing pasangan mau lebih mengerti, konflik pasti bisa dihindari.

Karena itu, syukuri besarnya gaji Anda sebagai sebuah berkah. Sebab, pemasukan yang lebih besar berarti kualitas hidup pun jadi lebih baik.

2. Pandai menempatkan diri
Anda harus bisa menempatkan dirinya dengan baik. Di luar rumah, Anda boleh saja berperan sebagai seorang direktur. Namun, ketika kembali ke rumah, Anda harus ingat peran Anda sebagai istri.

Inilah yang sering kali terlupakan. Anda membawa kebiasaan di kantor ke rumah sehingga suami merasa menjadi bawahan Anda.

Hal serupa juga berlaku ketika suami masuk ke lingkup pergaulan Anda. Saat ada acara di kantor Anda, usahakan suami tidak merasa minder. Bantu ia untuk menempatkan diri sebagai seorang suami dari atasan kantor istrinya. Tak perlu berpikir negatif tentang hal lainnya.

3. Berbagi tanggung jawab
Karier Anda semakin cemerlang dengan promosi yang baru Anda dapatkan tahun ini. Ini juga berarti tuntutan tanggung jawab yang lebih besar di kantor. Konsekuensinya, waktu untuk keluarga pun jadi berkurang. Lalu, siapa yang bertugas mengurus rumah dan anak-anak? Untuk masalah satu ini, pasangan suami-istri harus memutuskannya berdasar apa yang terbaik untuk anak-anak. Lupakan dulu ego masing-masing!

Bila suami pekerja freelance, usahakan agar pekerjaan tersebut bisa dilakukan di rumah. Suami bisa tinggal di rumah, sementara Anda bekerja. Bagi pekerjaan rumah tangga, mulai mengantar anak sekolah, membersihkan rumah, hingga berbelanja kebutuhan rumah. Dengan demikian, anak-anak dan urusan rumah tetap terjaga. Anda pun tak perlu merasa bersalah saat harus meninggalkan rumah untuk bekerja.

Hilangkan pemikiran bahwa tinggal di rumah sama dengan tidak bekerja. Jangan pernah menganggap remeh pekerjaan rumah tangga. Sebab, itu adalah pekerjaan yang sangat berat, yang dilakukan sejak matahari terbit hingga tenggelam. Tak ada salahnya dengan menjadi bapak rumah tangga, kok.

4. Pengaturan finansial
Saat posisi pekerjaan berada dalam satu level, pengaturan masalah keuangan mungkin tak ada masalah. Namun, ketika gaji Anda lebih besar, kadang-kadang Anda merasa punya kuasa lebih dalam mengatur keuangan. Nah, hal inilah yang biasanya membuat suami mudah tersinggung.

Untuk mengatasi masalah ini, sebaiknya Anda dan pasangan membuat pengaturan finansial yang lebih fleksibel. Artinya, aturan ini merupakan hasil kesepakatan bersama. Misalnya, penghasilan keduanya disatukan baru kemudian dibagi sesuai dengan pos-pos pengeluaran yang telah ditentukan.

Bagaimanapun cara pengaturannya, sebenarnya hal itu tidak menjadi masalah. Yang penting adalah kebutuhan rumah tangga dapat terpenuhi dengan baik. Selama hal itu tidak membuat salah satu merasa tidak nyaman. Jangan sampai muncul pemikiran bahwa gaji lebih besar berarti kekuasaan jadi tak berbatas.

Kadang kala, membiarkan suami membuat keputusan penting dalam rumah tangga merupakan tindakan yang bijak. Biarkan suami tetap menjalankan fungsinya sebagai kepala rumah tangga.

5. Abaikan saja
Karier istri yang lebih cemerlang dari suami tak jarang menimbulkan suara sumbang dari lingkungan. Lingkungan di sini bisa berarti lingkungan keluarga maupun lingkungan pekerjaan, apalagi bila suami ternyata lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah.

Tak mudah memang menghadapi situasi seperti itu. Namun, akan lebih baik bila pasangan suami-istri melihat kembali pada tujuan yang ingin dicapai. Semua kerja keras yang dilakukan semata-mata demi keutuhan rumah tangga. Abaikan saja suara-suara sumbang yang menganggap apa yang Anda jalani bertentangan dengan tradisi. Jadikan cobaan ini sebagai ujian agar ikatan pernikahan jadi lebih kuat. (***)

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada 13 April 2009 in Dunia, Hot Info

 

Komentar ditutup.

 
%d blogger menyukai ini: